Dasar-Dasar Perilaku Kelompok

Standard
belajarohbejar.blogspot.com

belajarohbejar.blogspot.com

 

Kelompok adalah satu ciri dari kehidupan modern yang tidak bisa dihindari, kita sebagai mahasiswa sering  kali berkelompok dengan teman-teman kita untuk melakukan apa saja, baik itu dalam mengerjakan tugas kuliah, organisasi bahkan dalam bermasyarakatpun sejatinya kita berkelompok.

Dan organisasi yang produktif  harusnya terdiri dari kelompok-kelompok yang produktif pula, tapi pada kenyataanya masih sering terlihat kelompok-kelompok dalam organisasi yang kurang produktif bahkan sering kali kelompok-kelompok itu menghabiskan waktu pada jam kerja dengan tidak produktif.

Maka seorang manajer modern membutuhkan pemahaman yang kuat akan kelompok dan proses kelompok sehingga dapat menghindari hambatan-hambatan yang ada pada kelompok dan dapat menangkap potensi besar yang ada pada kelompok.

Definisi

Kelompok (group) didefinisikan sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, bergabung untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelompok dapat berupa kelompok formal atau informal.

Psikolog organisasional bernama  Edgar Schein membuka wawasan tambahan atas konsep ini dengan menarik perbedaan antara sebuah kelompok , kerumunan, dan organisasi: “Ukuran kelompok karenanya dibatasi oleh berbagai kemungkinan interaksi timbal balik. Kumpulan-kumpulan orang saja tidak sesuai dengan definisi ini karena mereka tidak berinteraksi dan tidak menganggap diri  mereka sendiri sebagai sebuah kelompok meskipun seandainya mereka menyadari satu sama lain, misalnya, sebagai kerumunan di pojok jalan sedang melihat suatu kejadian. Sebuah departemen secara keseluruhan, sebuah perserikatan, atau organisasi keseluruhan tidak akan menjadi kelompok selain jika menganggap diri mereka sendiri sebagai “kami”, karena mereka umumnya tidak berinteraksi, dan tidak sepenuhnya menyadari satu sama lain. Namun tim kerja, komite subbagian dari departemen, golongan terbatas, dan berbagai perkumpulan nonformal lainnya di antara para anggota organisasi akan sesuai dengan definisi kelompok ini.

Kelompok formal dan informal 

Kelompok formal (formak group) adalah kelompok-kelompok yang didefinisikan oleh struktur organisasi, dengan penentuan tugas berdasarkan penunjukan penugasan kerja.Sebaliknya, kelompok informal (informal group) adalah perhimpunan yang tidak terstruktur secara formal maupun secara organisasional. Kelompok-kelompok ini adalah formasi-formasi alami dalam lingkungan kerja yang timbul sebagai respons terhadap kebutuhan akan kontak sosial.

Para peneliti menunjukkan bahwa kelompok formal memenuhi dua fungsi mendasar : organisasional dan individual. Kombinasi kompleks dari fungsi ini dapat ditemukan pada kelompok formal pada setiap saat. Fungsi organisasional dan fungsi individual bisa di lihat di tabel dibawah ini

Fungsi organisasional Fungsi individual
  1. Menjelaskan tugas kompleks yang saling terkait yang melampaui kemampuan individual
Memuaskan kebutuhan individu atau afiliasi
  1. Menghasilkan ide atau solusi yang baru atau kreatif
Mengembangkan, meningkatkan dan menegaskan harga diri dan rasa identitas individual
  1. Mengoordinisasikan usaha-usaha antardepartmen
Memberikan kesempatan individu untuk menguji dan berbagi persepsi realitas sosial
  1. Menyediakan mekanisme pemecahan masalah untuk masalah kompleks yang menuntut berbagai informasi dan penilaian
Mengurangi kecemasan individual  dan perasaan tidak nyaman serta rasa tak berdaya
  1. Melaksanakan keputusan yang kompleks
Menyediakan mekanisme pemecahan atas masalah pribadi dan antarpribadi
  1. Mensosialisasikan dan melatih para pendatang baru

Tahap –tahap perkembangan kelompok

1.         Model Lima-Tahap

Kelompok menempuh lima tahap yang jelas terbedakan: pembentukan, keributan, penormaan, pelaksanaan, dan peristirahatan.

Tahap pertama, pembentukan dicirikan oleh banyak sekali ketidakpastian mengenai maksud, struktur dan kepemimpinan kelompok. Para anggota melakukan uji coba untuk menentukan tipe-tipe perilaku apakah yang dapat diterima baik. Tahap ini selesai ketika para anggota telah mulai berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai bagian dari kelompok.

Tahap keributan adalah tahap konflik di dalam kelompok. Para anggota menerima baik eksistensi kelompok, tetapi melawan batasan-batasan yang diterapkan oleh kelompok terhadap individualitas. Lebih lanjut, ada koflik mengenai siapa yang akan mengendalikan kelompok. Bila tahap ini telah terlewati, terdapat hierarki yang relatif jelas mengenai kepemimpinan di dalam kelompok itu.

Tahap ketiga adalah tahap di mana berkembang hubungan yang akrab dan kelompok menunjukkan sifat kohesif [saling-tarik]. Saat itu sudah ada rasa memiliki identitas kelompok dan persahabatan yang kuat. Tahap penormaan ini selesai bila struktur kelompok telah kokoh dan kelompok itu telah menyesuaikan serangkaian harapan bersama atas apa yang disebut sebagai perilaku anggota yang benar.

Tahap keempat adalah pelaksanaan. Pada titik ini stuktur telah sepenuhnya berfungsi dan diterima baik. Energi kelompok telah bergeser dari mencoba mengerti dan memahami satu sama lain menjadi pelaksanaan tugas yang ada di depan mata.

Bagi kelompok kerja yang permanen, pelaksanaan adalah tahap terakhir dalam perkembangannya. Tetapi bagi komite, tim, satuan tugas temporer, maupun kelompok serupa yang mempunyai pelaksanaan tugas terbatas, ada tahapperistirahatan. Dalam tahap ini, kelompok mempersiapkan pembubaran. Performa tugas yang baik tidak lagi merupakan prioritas puncak kelompok itu. Sebagai gantinya, perhatian diarahkan ke pengelompokan aktivitas. Respon anggota kelompok beraneka dalam tahap ini. Ada yang merasa puas, dengan bersenang-senang atas prestasi kelompok. Yang lain mungkin murung atas hilangnya persahabatan yang diperoleh selama kehidupan kelompok kerja itu.

2.         Model Alternatif: Untuk Kelompok Temporer dengan Tenggat

Kelompok-kelompok temporer yang dibatasi tenggat waktu tampaknya tidak mengikuti model sebelumnya. Studi-studi menunjukkan bahwa kelompok itu memiliki urutan tindakan (atau bukan-tindakan) mereka sendiri yang unik:

1. pertemuan pertama menentukan arah kelompok

2. fase pertama kegiatan kelompok adalah fasi inersia (lemas tanpa energi)

3. terjadi peralihan pada akhir fase pertama, yang terjadi tepat ketika kelompok itu telah menghabiskan separuh waktu dari waktu yang telah disediakan

4. transisi mengawali perubahan-perubahan besar

5. fase inersia kedua mengikuti masa transisi

6. pertemuan terakhir kelompok dicirakan oleh kegiatan yang sangat terpacu.

KONDISI EKSTERNAL YANG DIPAKSAKAN KE KELOMPOK

Semua kelompok kerja dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang dipaksakan dari luar. Kondisi-kondisi eksternal ini mencakup strategi keseluruhan organisasi, struktur wewenang, peraturan formal, sumber daya, proses seleksi karyawan,, evaluasi kinerja dan sistem imbalan, budaya, dan tataran fisik.

SUMBER DAYA ANGGOTA KELOMPOK

Sebagian besar potensi tingkat kinerja kelompok bergantung pada sumber daya yang dibawa masing-masing anggota ke kelompok. Dalam bagian ini, kita melihat dua sumber daya yang telah menerima perhatian paling besar, yaitu kemampuan dan karakteristik kepribadian.

1.         Pengetahuan, Keterampilan dan Kemampuan

Sebagian kinerja kelompok dapat diperkirakan dengan menilai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan masing-masing anggota. Kinerja kelompok tidaklah sekadar penjumlahan dari kemampuan masing-masing anggota. akan tetapi, kemampuan ini menentukan parameter atas untuk apa yang dapat dilakukan pleh para anggota dan betapa efektif mereka akan melakukannya dalam kelompok

Tinjauan terhadap bukti telah menemukan bahwa keterampilan hubungan antar personal secara konsisiten muncul sebagai hal yang penting bagi kinerja tinggi kelompok kerja. Semua ini mencakup manajemen konflik dan resolusinya, pemecahan masalah kolaboratif, dan komunikasi.

2.         Karakteristik Kepribadian

Ada banyak sekali riset tentang hubungan antara ciri kepribadian, dan sikap beserta perilaku kelompok. Kesimpulan umumnya adalah bahwa ciri yang cenderung mempunyai konotasi positif dalam budaya kita akan cenderung berhubungan secara positif dengan produktivitas, semangat, dan kekohesifan kelompok. Ini mencakup ciri-ciri seperti misalnya kemahiran bergaul, inisiatif, keterbukaan, dan kelenturan. Kontras dengan itu, karakteristik yang dievaluasi secara negatif seperti misalnya otoritarianisme, dominasi dan ketidakkonvensionalan cenderung berhubungan secara negatif denga variabel-variabel bergantung. Ciri-ciri kepribadian ini berdampak pada kinerja kelompok yang sangat mempengaruhi cara individu itu berinteraksi dengan anggota kelompok yang lain.

STRUKTUR KELOMPOK

Kelompok kerja bukanlah gerombolan yang tidak terorganisasi. Mereka mempunyai struktur yang membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan dan meramalkan sebagian besar perilaku individu di dalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri.

1.         Kepemimpinan Formal

Orang ini umumnya mempunyai jabatan seperti misalnya manajer unit, manajer bagian, penyelia, mandor, pimpinan proyek, kepala satuan tugas, ataupun ketua komite. Pemimpin ini dapat memainkan peranan penting dalam keberhasilan kelompok.

2.         Peran

Peran adalah seperangkat pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial tertentu. Pemahaman perilaku peran secara dramatis akan disederhanakan jika masing-masing dari kita memilih satu peran dan memainkannya secara teratur dan konsisten.

Identitas peran. Ada sikap dan perilaku aktual tertentu yang konsisten dengan peran dan menciptakan identitas peran. Orang mempunyai kemampuan untuk dengan cepat beralih peran bila mereka menyadari bahwa situasi dan tuntutannya jelas-jelas membutuhkan perubahan besar.

Persepsi Peran. Pandangan seseorang mengenai bagaimana seseorang seharusnya bertindak dalam situasi tertentu disebut persepsi peran. Berdasarkan penafsiran atas bagaimana kita meyakini bagaimana seharusnya perilaku kita, kita terlibat ke dalam tipe-tipe perilaku tertentu.

Pengharapan Peran. Pengharapan peran didefinisikan sebagai bagaimana orang lain meyakini apa seharusnya tindakan anda dalam situasi tertentu. Bagaimana anda berprilaku, sebagian besar ditentukan oleh peran yang didefinisikan dalam konteks tindakan anda.

Konflik Peran. Bila individu dihadapkan pada pengharapan peran yang berlainan, akibatnya adalah konflik peran. Konflik ini muncul bila individu menemukan bahwa patuh pada tuntutan satu peran menyebabkan dirinya kesulitan mematuhi tuntutan peran lain. Dalam keadaaan ekstrem, itu akan mencakup situasi di mana dua atau lebih pengharapan peran saling berlawanan.

3.         Norma

Semua kelompok telah menegakkan norma, yaitu standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan bersama oleh anggota kelompok. Norma ini memberitahu para anggota apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu. Dari titik pandang individu, norma itu mengatakan apa yang diharapkan dari anda dalam situasi tertentu. Bila disepakati dan diterima oleh kelompok, norma bertindak sebagai alat untuk mempengaruhi perilaku anggota kelompok dengan pengawasan eksternal yang minimal. Norma berbada di antara kelompok-kelompok, komunitas dan masyarakat, tetapi semuanya mempunyai norma.

4.          Status

Yaitu posisi atau peringkat yang ditentukan secara sosial yang diberikan ke kelompok atau anggota kelompok oleh orang lain.

Status dan Norma. Telah ditunjukkan bahwa status mempunyai beberapa pengaruh yang menarik terhadap kekuatan norma dan tekanan untuk penyesuaian. Orang-orang berstatus-tinggi juga lebih mampu bertahan terhadap tekanan konformitas dari rekan sekerja mereka dibandingkan dengan status lebih-rendah. Individu yang dinilai tinggi oleh kelompok kerja tetapi tidak banyak memerlukan atau mempedulikan imbalan sosial yang diberikan oleh kelompok secara khusus akan mampu memperhatikan secara minimal norma-norma konformitas.

Kesetaraan Status. Penting bagi anggota kelompok untuk meyakini bahwa hierarki status itu setara. Jika dipersepsikan adanya kesetaraan, terciptalah ketidakseimbangan yang terjadi dalam berbagai jenis perilaku korektif.

Status dan Budaya. Pentingnya status bervariasi di antara berbagai budaya. Prancis misalnya, sangat sadar status. Selain itu, negara-negara berlainan mengenai kriteria yang menciptakan status. Pesannya di sini adalah untuk memastikan bahwa anda memahami siapa dan apa yang menentukan status bila berinteraksi dengan orang dari budaya yang berbeda dari budaya anda.

5.          Ukuran.

Apakah ukuran kelompok mempengaruhi perilaku keseluruhan kelompok itu? Jawaban atas pertanyaan itu adalah “Ya” definitif, tetapi efeknya bergantung pada variabel bergantung mana yang anda perhatikan.

Bukti-bukti misalnya menunjukkan, misalnya, bahwa kelompok kecil lebih cepat menyelesaikan tugas daripada kelompok besar. Tetapi jika kelompok itu bekerja dalam pemecahan masalah,  kelompok besar secara konsisten mendapat nilai yang lebih baik daripada kelompok yang kecil.

  1. 7.      Komposisi.

Kebanyakan kegiatan kelompok menuntut aneka ragam keterampilan dan pengetahuan. Dengan adanya tuntutan ini, bisa disimpulkan bahwa kelompok heterogen-kelompok yang terbentuk dari individu-individu yang tidak mirip-akan lebih besar kemungkinannya untuk mempunyai kemampuan dari informasi yang beraneka dan seharusnya lebih efektif.

  1. 8.      Kepaduan.

Kelompok –kelompok itu berbeda menurut kepaduan [cohesiveness] mereka, yakni sejauh mana para anggota tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap di dalam kelompok. Studu-studi secara konsisten memperlihatkan bahwa hubungan kepaduan dan produktivitas tergantung pada norma-norma yang berkaitan dengan kinerja yang dibangun oleh kelompok.

Referensi :

P. Robbins, S.”perilaku Organisasi”.2003.Jakarta:Indeks

http://accountingcenter.wordpress.com/2010/01/28/dasar-dasar-perilaku-kelompok/

About fikri_farhan

terlahir di desa danau embat.. masa kecil kuhabiskan dipinggiran sungai Batang Hari, melangkah SMP belajar berteman di MTsN Model kota jambi, menginjak SMA kunikmati dengan mengaji dan belajar Hidup Di pondok modern Darussalam GONTOR Ponorogo, pengabdian setahun kunikmati sambil belajar berfikir di ISID SIMAN GONTOR. sekarang aku menuntut ilmu di Yogyakarta, manajemen pemasaran FE UII, tertarik dengan ekonomi islam dan segala bentuk pemikiran, sempat menjadi ketua Studi klub ekonomi islam. sekarang terus mencari, terkadang tidak tau apa yang harus dicari, Akhirnya mencari apa yang harus dicari..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s